Kolom

MENGIRINGI KESALAHAN DENGAN KEBAIKAN

Betapa beruntungnya kita, dapat memasuki akhir bulan suci Ramadhan pada tahun ini. Momentum inilah yang dapat kita manfaatkan sebagai tahapan perenungan dari segala aktifitas kita selama hampir sebulan, bahkan perenungan sampai dengan detik ini, di mana kita diberikan kesempatan hidup di dunia. Sebagai manusia yang tidak lepas dari kekhilafan juga kesalahan, seyogyanya kita segera berbenah diri mengingat dan kembali mengharap Allah selalu melindungi dan menempatkan kita menjadi insan kamil yang diharapkan. Salah satu cara berbenah diri adalah menyadari bahwa kesalahan bisa terjadi karena penyimpangan terhadap norma sebuah institusi maupun terhadap individu. Kesalahan terhadap institusi dan individu dapat diperbaiki dengan permintaan maaf kepada pihak-pihak yang terkait. Hal ini bisa kita sampaikan melalui lisan, tertulis maupun cara-cara lain yang disepakati. Jika permintaan maaf tidak cukup karena berkaitan dengan hak, maka hak itu harus ditunaikan. Aturan inilah yang tampaknya disepakati dan dipraktikan oleh semua masyarakat, meskipun terkadang dalam bentuk dan wujud yang bermacam-macam.

Sebagai agama yang mengatur hubungan antara Tuhan dengan manusia, Islam mengajarkan hal tersebut. Islam memerintahkan umatnya untuk menyertai kesalahan kepada Tuhan atau kepada manusia dengan kebaikan. Tebusan kesalahan yang murni berkaitan dengan Tuhan dapat dilakukan dengan taubat, memperbanyak istighfar dan tidak mengulanginya lagi. Sedangkan tebusan kepada manusia adalah dengan cara seperti meminta maaf dan menunaikan hak kepada pihak terkait.

Searah dengan ini, terdapat sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dzar al-Ghiffari Ra. “Suatu hari aku berkata kepada Rasulullah, “wahai Rasulullah, ajari aku amalan yang dapat mendekatkanku ke Shurga dan menjauhkanku dari neraka.” Nabi kemudian berkata, ‘jika engkau melakukan suatu kesalahan, iringilah dengan kebaikan.’ Karena penasaran, aku pun berkata, ‘Apakah perkataan Laa ilaaha illallaah termasuk kebaikan?. Nabi menjawab, ‘Ya, itu sebaik-baik kebaikan.”

Dari hadits di atas, sudah sepantasnyalah kita sebagai makhluk sosial dapat menerapkan konsep ini secara hati-hati. Setiap manusia berada di sebuah lingkungan yang mau tidak mau melibatkan manusia lainnya. Di dalamnya ada interaksi yang menyebabkan hubungan positif dan negatif, hubungan saling tolong menolong, menyayangi bahkan bisa dalam bentuk negatif seperti saling menghina dan saling menyakiti. Sehingga untuk  mengimbangi interaksi yang diharapkan Allah sebagaimana dalam surat Al-Maidah ayat 2 yang artinya “saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaaan”, konsep mengiringi kesalahan dengan kebaikan adalah sesuatu yang logik. Di mana ketika kita pernah menyakiti hati orang lain, cara terbaik adalah meminta maaf dan mengiringinya dengan kebaikan-kebaikan. Hal inilah yang Islam ajarkan, senada dengan salah satu kata mutiara yang berbunyi : ketika kita menyakiti orang lain artinya kita telah menanam paku pada sebuah kayu dan ketika kita meminta maaf, maka paku itu bisa terlepas dari kayu. Namun, ada satu hal yang harus kita ingat bahwa bekas paku yang menancap itu tetaplah membekas, sehingga menjadi hal yang masuk akal ketika kita tidak sekedar meminta maaf untuk dimaafkan orang lain, namun menutup kesalahan yang pernah kita lakukan dengan kebaikan.

Jika melihat dari sudut pandang Islam, definisi, arti dan maksud dari pengertian kebaikan ialah mencakup dimensi ibadah dan kepedulian sosial atau hablum minallah (hubungan dengan Allah) dan hablum minan naas (hubungan dengan manusia). Dalam surat Al-baqarah ayat 177, kebaikan disebut dengan al-birru sebagai kebaikan yang banyak. Implementasi dari konteks ayat ini antara lain memberikan harta yang dicintai kepada karib kerabat yang membutuhkan (infak, sedekah), mendirikan shalat, menunaikan zakat kepada yang berhak menerimanya, menepati janji bagi mereka yang telah mengadakan perjanjian baik kepada Allah dan manusia. Selain itu dalam hadits, Rasulullah menegaskan bahwa kebaikan adalah akhlak yang baik, sedangkan dosa adalah apa saja yang meragukan jiwamu dan kamu tidak suka memperlihatkannya pada orang lain (HR. Muslim). Dengan demikian, kebaikan pada setiap muslim tidak lain mencakup hubungan harmonis dengan Allah swt yakni dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, juga memiliki hubungan yang baik dengan sesama manusia, yakni dengan budi pekerti atau akhlak yang baik.

 

Oleh karena itu, pada momentum bulan suci ini marilah kita bersama-sama berbenah diri untuk dapat meraih hari fitri yang indahnya diharapkan kita suci kembali. Bahwa sebulan penuh berpuasa ini merupakan latihan yang dapat menuntun kita menjadi pribadi muslim yang pandai mengambil hikmah terbesar dalam kehidupan. Semoga Ramadhan tahun ini dapat menjadi ladang subur ibadah kita dalam berinterakasi dengan sesama manusia, karena keharmonisan kehidupan sosial tidak lain mencerminkan keshalehan sosial. [Anisah Budiwati]


LIMA PERKARA YANG MERUSAK PUASA

Sabda Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Al Ardi dan Ad Dailami:

 

خَـمـْسَـةُ أَشْـيَاءَ تُهْـبـِطُ الصَّـوْمَ: اَلـكَاذِبُ, وَالغِـيْـبَةُ, وَالنّـَمـِيْـمَةُ, وَالنّـَظْـرُ بِالشَّـهَـوَاة, وَاليَـمِـيـْنُ الغَـمُوسُ. رواه الارد والديلمي  

"Ada 5 perkara yang dapat merusakkan pahala puasa, yaitu berdusta, menggunjing, mengadu domba, melihat lawan jenis dengan syahwat dan bersumpah palsu."

Puasa sebagai salah satu bentuk aktifitas ibadah untuk mengendalikan diri manusia, merupakan suatu ibadah unik. Karena ibadah ini, hanya diketahui oleh yang berpuasa dan Allah semata. Puasa yang dalam pembatasan syariat adalah upaya mengendalikan diri dari makan dan minum serta melaksakan kebutuhan seksual sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari, mempunyai arti yang lebih luas lagi dengan upaya mengendalikan diri dari segala aktifitas yang bisa melupakan dari Allah SWT.

Sebagaimana hadits Rasulullah diatas, bahwa ada 5 perkara yang dapat merusakkan puasa. Yakni :

1. Berdusta

Dusta, adalah menceritakan suatu hal yang tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya. Kepada para netter muslim, patutlah kiranya kita menilik kembali apa yang telah kita lontarkan di newsgroup ini. Apakah banyak hal-hal dusta yang telah dikemukakan. Dan mulailah diri kita untuk tidak berdusta dalam segalahal, baik besar maupun kecil.

2. Menggunjing

Menggunjing, adalah menceritakan keburukan-keburukan orang lain dengan maksud untuk menyakiti hati orang yang bersangkutan, sehingga seandainya orang yang bersangkutan mendengarnya akan sakit hati. Dewasa ini di dalam masyarakat kita, pergunjingan adalah hal yang sepertinya sudah lumrah. Sehingga sukar sekali kita untuk menghilangkannya, contoh nyata adalah di newsgroup ini. Betapa banyak posting-posting yang menggunjingkan orang lain, padahal belum tentu orang yang bersangkutan itu salah atau jelek.

3. Mengadu domba

Seorang yang suka mengadu domba, sebagaimana digambarkan oleh Rasulullah adalah orang yang mempunyai dua muka. Satu sisi muka yang pertama adalah lawan dari sisi muka yang satunya, sehingga digambarkan bahwa nantinya orang ini di akhirat akan mendapatkan siksa yang pedih dikarenakan adanya dualisme didalam dirinya. Orang yang pengadu domba, hanyalah mengambil keuntungan dari orang yang rugi dari hasil adu dombanya.

Banyak contohnya, termasuk di dalam newsgroup ini. Betapa banyak posting-posting yang nilainya adalah adu domba semata.

4. Melihat lawan jenis dengan syahwat

Maksudnya adalah melihat lawan jenis sehingga nafsu syahwatnya muncul sehingga akan mengakibatkan hal-hal yang dapat merugikan diri sendiri. Dengan kecanggihan teknologi dewasa ini, betapa banyaknya media-media tersebut diatas yang berkeliaran di dunia internet ini. Adalah suatu ke-haram-an apabila seorang muslim melihat-lihat gambar-gambar yang berbau pornografi.

5. Bersumpah palsu

Adalah suatu perjuangan untuk mengatakan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah. Di dalam suatu persidangan, seorang saksi adalah salah satu unsur penentu yang dapat menentukan nasib terdakwa, sehingga sumpah palsu adalah suatu hal yang sangat dicela dan diharamkan di dalam Islam.

Demikianlah sekelumit uraian tentan perkara yang dapat merusakkan pahala puasa, semoga kita dianugerahi kekuatan oleh Allah SWT. untuk menjauhinya. Sehingga diri kita tidak tergolong sebagaimana sabda Rasulullah: "Banyak orang yang berpuasa, namun mereka tidak mendapatkan apa-apa (pahala) dari puasanya selain rasa lapar dan dahaga."  [Dadan Muttaqien]

 

 

KEISTIMEWAAN RAMADHAN

Puasa/Shaum secara bahasa berarti  imsak (menahan) dan secara istilah syari’ah, menahan diri dari makan, minum, hubungan seksual dan hal-hal lain yang membatalkannya sejak subuh hingga terbenam matahari dengan niat ibadah.

Ibadah puasa Ramadhan pertama kali disyariatkan pada tanggal 10 Sya`ban ditahun kedua setelah hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah sesudah diturunkannya perintah penggantian kiblat dari masjidil Al-Aqsha ke Masjid Al-Haram. Puasa Ramadhan merupakan bagian dari rukun Islam yang ke tiga. Maka jika kewajiban tersebut tidak dilaksanakan termasuk bagian daripada mengingkari rukun Islam yang berakibat gugurnya keIslaman seseorang. Dasar hukum kewajiban menjalankan puasa Ramadhan bersumber dari al-Qur’an, as-Sunnah dan Ijma’:

Dalam al-Qur’an disebutkan: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan bagi kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan bagi orang-orang sebelummu, agar kamu bertakwa” (Q.S. al-Baqarah [2]: 183).

Sementara Rosulullah SAW telah bersabda:

 بُنِيَ الْإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إلهَ إِلاَّ الله وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالْحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ.

"Islam dibangun di atas lima perkara: Syahadat, bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah, kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji, dan puasa Ramadhan." (H.R. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadist lainnya yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Abu Daud, dan An-Nasa’i Rosulullah SAW juga telah bersabda tentang kewajiban puasa Ramadhan: Dari Thalhah bin Ubaid ra bahwa seseorang datang kepada Nabi SAW dan bertanya,” Ya Rasulullah SAW , katakan padaku apa yang Allah wajibkan kepadaku tentang puasa?” Beliau menjawab,”Puasa Ramadhan”. “Apakah ada lagi selain itu?”. Beliau menjawab, “Tidak, kecuali puasa sunnah” (H.R. Bukhori, Muslim, Abu Daud, dan An-Nasa’i).

Sedangkan dalam Ijma’ yang berarti kesepakatan para mujtahid Islam tentang hukum syari’ah setelah meninggalnya Rosulullah SAW, umat Islam telah sepakat atas kewajiban melaksanakan ibadah puasa Ramadhan.

Keistimewaan Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa dan selalu dinanti oleh kaum muslimin dan muslimat karena didalamnya Allah SWT telah membuka semua pintu surga dan ditutup seluruh pintu neraka dan syaitan-syaitan dibelenggu. Bahkan Allah SWT juga menjanjikan rahmatNya dan ampunan serta hari pembebesan dari neraka. Pada bulan tersebut segala pikiran dan tindakan orang-orang beriman juga akan selalu terkontrol oleh diri mereka sendiri karena betul-betul sedang menjalankan suatu ibadah yang sangat istimewa dan hanya diberikan bagi umat Islam yang beriman.  Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

“Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan pun dibelenggu.” (H.R. Bukhori dan Muslim)

Selain itu  Allah SWT menjadikan Ramadhan sebagai bulan diturunkannya al-Qur’an sebagaimana dijelaskan dalam surat al-Baqarah ayat 185: “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”. (Q.S. al-Baqarah [2]: 185).

Ramadhan  disebut juga sebagai bulan al-Qur’an. Rasulullah SAW. pernah bersabda tentang faidah puasa dan al-Qur’an yang akan memberikan syafaat kepada hamba dihari kiamat. ”Puasa akan berkata, ‘Ya Rabbi, aku telah menghalangi-nya dari makan dan syahwat, maka perkenankanlah aku memberikan syafa‘at untuknya.’ Sedangkan al-Qur’an akan berkata, ‘Ya Rabbi, aku telah menghalanginya dan tidur di malam hari, maka perkenankan aku memberikan syafaat untuknya” (H.R. Imam Ahmad dan at-Thabrani).

Pada sepuluh hari terakhir dibulan tersebut terdapat malam yang penuh kemuliaan dan keberkahan yaitu suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan ialah lailatul qadar. Karena di antara sepuluh malam terakhir itulah diturunkannya al-Qur’an. “Sesungguhnya kami telah menurunkannya (al-Quran) pada malam kemuliaan, dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?, yaitu malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan”. (Q.S. al-Qadr [97]: 1-3).

Dan Allah SWT juga berfirman: “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (Q.S. ad-Dukhan [44]: 3).  

Ramadhan ternyata juga meruapakan salah satu waktu yang mustajab untuk  berdoa seperti sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ لِلّهِ فِى كُلِّ يَوْمٍ عِتْقَاءَ مِنَ النَّارِ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ ,وَإِنَّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ دَعْوَةً يَدْعُوْ بِهَا فَيَسْتَجِيْبُ لَهُ

“Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan,dan setiap muslim apabila dia memanjatkan do’a maka pasti dikabulkan.” (H.R. al-Bazaar).

Dalam riwayat lain beliau juga bersabda:

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Tiga orang yang do’anya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan do’a orang yang dizholimi”. (H.R at-Tirmidzi)

Apabila dibandingkan dengan ibadah lainnnya, puasa memiliki nilai keutamaan yakni mengajarkan manusia untuk hanya berserah diri kepada Allah SWT. Pada saat menjalankan ibadah puasa, seseorang dituntut secara sadar dan ikhlas bahwa segala niat, ucapan dan perbuatannya pasti akan diketahuai oleh Allah SWT sehingga ia akan menahan diri untuk melakukan hal-hal yang dapat membatalkan puasa dengan niat murni hanya mengharapkan ridhoNya. Wallahu a’lam bi muradihi. [a.nurozi]


MENYAMBUT NUZULUL QUR’AN RAMADHAN 1437 H – 2016 M

Latar Belakang

Kitab Allah (Al-Qur’an) merupakan satu pedoman hidup manusia baik untuk kebahagiaan di dunia maupun kebahagiaan hidup di akhirat. Agar manusia mampu meraih kedua hal tersebut maka manusia dituntut untuk mampu memahami, membaca, dan mengamalkan apa yang terkandung dalam kitab Allah tersebut.

Orang Islam mempunyai kewajiban untuk mampu dan dapat membaca Al-Qqur’an dengan baik dan benar, memahami arti dan maknanya, serta mengamalkan apa yang ada didalamnya. Hal tersebut sudah dijelaskan didalam tafsir Al-Qur’an surat Al-Fathir ayat 32 yang memberikan penjelasan kepada kita bahwa Al-Qur’an merupakan suatu karunia yang besar yang hanya diturunkan untuk kita umat Nabi Muhammad SAW akan tetapi masih banyak orang yang menyia-nyiakan hal tersebut, banyak orang yang tidak mau menggunakan Al-Qur’an sebagai pedoman hidupnya.

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

Artinya : kemudian kami wariskan kitab itu kepada orang-orang yang kami pilih diantara hamba-hamba kami lalu diantara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan diantara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada pula yang lebih cepat berbuat kebaikan dengan izin Allah yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. (QS. Al-Fathir : 32)

 

Asbabun Nuzul

Menjelaskan bahwa ummat Nabi Muhammad telah dipilih oleh Allah untuk mewarisi kitab    suci Al Qur’an. namun pada ayat yang 32 justru Allah melontarkan kritik terhadap kondisi mereka dilapangan.

Umat Nabi Muhammad yang bakal masuk surga dibagi menhajdi 3 golongan :

  1. golongan masuk surga tanpa diproses hisab, karena masa hidupnya selalu kompetitif dalam berbakti dan berbuat kebajikan.
  2. golongan masuk surga yang melalui proses hisab yang mudah dan cepat, karena pada masa hidupnya cukup kompetitif, tetapi masih suka meninggalkan yang sunah.
  3. golongan masuk surga susulan. karena pada masa hidupnya tidak berjiwa kompetitif dalam berbakti dan berbuat kebajikan, di samping banyak melakukan kesalahan 

Tafsir kontekstual

Pada dasarnya semua manusia diberikan anugerah berupa potensi/pengetahuan oleh Allah, akan tetapi tidak semua orang mempergunakannya dengan baik, ada yang menyia-nyiakan  pengetahuan itu sehingga kadangkala mereka merasa hidupnya tidak terarah, ada juga yang kadang menyadari adanya pengetahuan adapula yang terkadang mengabaian, dan yang terakhir mereka yang menyadari adana petunjuk / pengetahuan sehingga mereka dengan segera memanfatkannya dengan baik. Dan beruntunglah mereka yang menyegerakan kebaikan dalam hidupnya. Karena tidak semua orang dianugerahi pemikiraan seperti itu. Adapun tingkatan-tingkatan orang mukmin yang mengamalkan Al-Qur’an itu akan dijelaskan secara rinci :

1. Zalimun linafsihi (mereka yang mendzalimi diri sendiri)

Golongan pertama (zalimun linafshihi) adalah orang-orang yang lebih banyakBerbuat kesalahan daripada kebaikannya. mereka lebih sering melakukan perbuatan buruk daripada perbuatan baik. Mereka lebih sering meninggalkan perintah Allah daripada menjalankan perintah Nya. Orang yang termasuk golongan ini menolak Al Qur’an dan memilih jalan hidup yang lain. Mereka tidak mau menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan

2. Muqtasid ( mereka yang pertengahan )

Golongan kedua (muqtasid) adalah terdiri atas orang-orang yang kebaikannya sama dengan keburukan yang di lakukannya. Orang-orang yang termasuk golongan ini menjalankan perintah Allah tetapi juga menjalankan laranganNya.Mereka mau menerima Al Qur’an dan menjadikannya sebagai pedoman hidup, tetapi mereka masih banyak melakukan kesalahan.

3. Sabiqun bilkhairat ( mereka yang lebih dahulu berbuat kebaikan )

Golongan ketiga (sabiqun bilkhairat) terdiri atas orang-orang yang kebaikannya sangat banyak dan sangat jarang berbuat kesalahan. Mereka yang termasuk golongan ini adalah orang-orang yang selalu menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan Nya. Mereka menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman hidup. Mereka tidak pernah mengerjakan apa yang di larang oleh Al Qur’an.Orang-orang yang masuk golongan ini selalu menjalankan perintah-perintah yang hukumnya wajib dan sunnah. Mereka meninggalkan segala sesuatu yang haram hukumnya dan menghindari yang subhat.Allah SWT telah menyediakan surga dengan segala kenikmatannya bagi golongan ini. Orang-orang yang termasuk golongan ketiga ini merupakan golongan yang mendapat karunia yang terbesar,selain itu juga mereka termasuk orang-orang yang beruntung karena menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman hidup dan menjalankan apa yang di perintahkannya.Mereka melakukan perbuatannya dengan ikhlas karena Allah.Kelak Allah akan membalas segala perbuatannya.

Kesimpulan :

  • Allah mewariskan Al-Qur’an kepada manusia sebagai sumber informasi bagi kehidupan
  • Allah juga menganugerahkan manusia potensi/pengetahuan agar mampu mempelajari seluk beluk Al-Qur’an
  • Jadilah orang yang mensegerakan hal-hal yang baik seperti berlomba-lombalah dalam mencari ilmu dan mengamalkan ilmu yang telah didapatkan tersebut.
  • Jangan menjadi orang yang dholimun linafsih [Dadan Muttaqien]

 DAFTAR PUSTAKA

Al- Maraghy Mustafa , 1980 ,  Tafsir Al- Maraghy . Semarang : CV. Toha Putra

Imam Jalaluddin Al-Mahalli , 2003 , Tafsir Jalalain . jakarta : Sinar baru Algensindo

Malik Abdul, 1988, Tafsir Al-Azhar . Jakarta : Pustaka Panjimas

Shihab M Quraish, 2002, Tafsir Al-Misbah. Jakarta : Lentera Hati

Universitas Islam Indonesia, 2004, Tafsir dan Al-Qur’an. Jogjakarta : PT Dhana Bakti Wakaf


MENDULANG PAHALA DI BULAN PUASA

Mengambil Pelajaran dari Makna Puasa

Kaum muslimin di seantero dunia dalam menyambut bulan puasa Ramadhan dengan berbagai ragam dan bentuk. Sebagai bulan yang istimewa, namanya juga sangat istimewa dengan berbagai ragam istilah yang mengandung makna yang sangat istimewa pula.

Hasbi Ash-Shiddieqy dalam buku menyambut bulan Allah Ramadhan Al-Karim (Hasbi, 1972:8) menyebutkan beberapa istilah Ramadhan dengan beberapa nama di antaranya:

  1. Syahrul Qur’aan: Bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.
  2. Syahrul Juud: Bulan memberikan keihsanan kepada sesama manusia dan melimpahkan bantuan kepada fakir miskin atau bulan bermurah tangan.
  3. Syahrul Mawaasah: Bulan memberikan pertolongan kepada yang berhajat.
  4. Syahrut Tilaawah: Bulan membaca Al-Qur’an atau bulan melipatgandakan membaca Al-Qur’an.
  5. Syahrush Shabri: Bulan melatih diri bersabaratas penderitaan yang dihadapi dalam melaksanakan tugas-tugas agama dan bersabar menderita dengan ridha hati.
  6. Syahru Ramadhan: Bulan Allah melimpahkan rahmatnya kepada hamba-hambaNya.
  7. Syahrul ‘Ied: Bulan yang dirayakan hari berbuka daripadanya.

Makna-makna puasa tersebut memberikan kandungan arti yang apabila dipahami dan diamalkan akan mengeluarkan daya dan pahala yang banyak. Seperti sebutan Syahrul Qur’an sebagai bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran. Dalam surat Al-Qadar disebutkan bahwa diturunkannya Al-Qur’an yang bertepatan dengan terjadinya malam lailatul qadar yang menyebutkan barang siapa yang beribadah bertepatan dengan malam lailatul qadar maka akan mendapat pahala sama dengan seribu bulan. Ibadah ini sangat spektakuler karena kalau diukur dari rentang waktu umur manusia jarang yang sampai 1000 bulan atau setara dengan 83 tahun suatu kemaha-murahan Tuhan yang diberikan kepada hamba-Nya.

Makna yang lain disebutkan syahrut tilawah. Dalam suatu Hadits disebutkan bahwa barang siapa yang membaca Al-Qur’an maka setiap satu huruf yang dibaca mendapat 10 pahala kebaikan. Jadi kalau orang membaca bismillahirrahmanirrahiem berati sudah mendapat poin pahala 190. Kalau orang bisa membaca satu hari satu juz, agak sulit menghitungnya berapa juta poin pahala yang didapat.

Memetik dari sedikit macam amalan yang sudah didapat dengan berjuta-juta pahala apalagi amalan- amalan yang lain yang banyak ragamnya. Oleh karenanya jangan menyia-nyiakan kesempatan emas untuk mengisiamalan-amalan yang penuh pahala dan fadhilah selama bulan puasa Ramadhan.

Gunakan Aji Mumpung

Kesempatan emas yang Allah berikan selama bulan Ramadhan yang belum tentu ada bulan Ramadhan berikutnya kita bisa sampai menemuinya, maka pesan luhur yang diamanatkan Rasulullah SAWtentang gunakan lima kesempatan sebelum datangnya lima yang lain atau istilah lain gunakan aji mumpung, yaitu:

  1. Mudamu sebelum tuamu. Dalam Hadis lain riwayat Bukhari-Muslim menyebutkan bahwa pemuda yang ideal adalah pemuda yang jiwa raganya selalu tertambat ke masjid. Hal ini tentu harus dimaknai secara komprehensif bahwa istilah tertambat ke masjid bukan berarti selama 24 jam di masjid akan tetapi tingkah laku dan moral pribadinya selalu mencerminkan kesucian seperti masjid sebagaisimbol tempat yang suci.
  2. Waktu senggangmu sebelum sibukmu. Dalam pepatah sering dikatakan bahwa waktu adalah uang. Pepatah ini lebih agamis kalau diganti bahwa waktu adalah ibadah, sebab kalau waktu adalah uang memberi kesanmaterialistis dan sarat dengan kepentingan duniawi ansih. Tapi kalau waktu adalah ibadah maka dua-duanya bisa mencakup yaitu dunia dan akhirat.
  3. Kayamu sebelum miskinmu. Dalam kamus kemilikan bahwa harta bisa menjadi alat bahagia dan bisa menjadi alat sengsara. Atau dalam kalimat lain harta itu bisa menjadi laknat atau nikmat. Agar harta menjadi alat menuju bahagia dan nikmat maka harta itu harus berbagi, artinya sebagian harta yang dimiliki diberikan pada orang lain agar nikmat yang kita rasakan juga bisa dimilki orang lain.
  4. Sehatmu sebelum sakitmu. Dalam kamus kehidupan, sehat adalah modal segala-galanya. Orang yang sedang sakit segalanya tidak nikmat. Makan tidak nikmat dan ibadah juga tidak bisa nikmat. Oleh karena itu pada saat orang sedang sehat disamping menjaganya juga mengisinya dengan amal-amal yang bermanfaat.
  5. Hidupmu sebelum matimu. Sindirin terhapat orang yang terkena penyakit wahn (Cinta dunia dan benci akan kematian) secara tidak kentara banyak dimiliki orang. Padahal kematian bagi orang yang meninggal adalah peristiwa yang sangat dahsyat. Karena menghadapi berbagai peristiwa yang belum pernah dialami didunia.

Dari lima hal pesan luhur tersebut hendaklah menjadi bahan renungan sekaligus pertanyaan apakah perjalanan hidup kita sudah kita maksimalkan untuk mengisi lima hal tersebut. Dalam momentum bulan suci Ramadhan ini mari kita isi dengan memaksimalkan lima peluang yang Allah berikan agar hidup kita bisa hasanah fiddunya wal akhirah.[ Prof. Dr. H. Amir Mu’allim, MIS]

 

I’TIKAF PUNCAK AMALAN RAMADHAN

Pengertian dan tujuan

            I’tikaf menurut bahasa berarti menetap pada sesuatu. Sedangkan menurut istilah i’tikaf adalah menetap di masjid untuk beribadah kepada Allah dilakukan oleh seseorang dengan tatacara secara khusus.

Tujuan i’tikaf adalah mengkonsentrasikan hati supaya dapat beribadah sepenuhnya kepada Allah selama sepuluh hari akhir bulan Romadhan.Sementara waktu kita berusaha menyendiri dan memutuskan diri dari berbagai macam kesibukan dengan berusaha lebih mendekatkan diri kepada Allah semata-mata untuk mengharapkan keridhaan-Nya. Karena itu i’tikaf adalah di antara jalan mudah untuk meraih malam kemuliaan (lailatul qadar), yang kebaikannya setara seribu bulan.

Dasar disyari’atkan I’tikaf

Para ulama sepakat bahwa i’tikaf  hukumya sunnah, kecuali bagi orang yang bernadzar untuk melaksanakan i’tikaf. Banyak hadis yang meriwayatkannya, di antaranya adalah hadis yang diriwayatkan dalam sunan al-Baihaqi bab i’tikaf, hadis nomor 8829 dari Abdullah ibnu Umar ra, ia berkata:

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يعتكف في العشرالأواخرمن رمضان

 “Rasulullah saw biasa beri’tikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan”

Nabi saw beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dengan maksud agar mudah meraih lailatul qadar (QS. Al-Qadr (97): 1-5), untuk menyendiri sementara waktu dari kesibukan dunia sehingga mudah bermunajat kepada Allah, memperbanyak shalat sunnah, qiyamul-lail, berdo’a, dzikir dan membaca Al-Qur’an dan mengkajinya.

Tempat untuk melakukan i’tikaf adalah harus di Masjid, Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah (2): 187 yang berbunyi:

( ¢OèO (#q‘JÏ?r& tP$u‹Å_Á9$# ’n “...Kemudian sempurnakan puasa sampai (datang) malam, dan jangan kamu campuri mereka (isteri), ketika kamu beri’tikaf dalam masjid...”

Mayoritas ulama sepekat bahwa tempat untuk beri’tikaf itu di Masjid. Yang dimaksud masjid adalah dimana di dalamnya ditegakkan shalat lima waktu berdasarkan keumuman firman Allah di atas, sedangkan Imam Asy-Syafi’i ra menambahkan syarat yaitu masjid tersebut diselenggarakan shalat jum’at, alasanya agar ketika pelaksanaan shalat jum’at, orang yng beri’tikaf tidak perlu keluar dari masjid.

Kebolehan wanita beri’tikaf

Dalam hal ini, Wanita boleh beri’tikaf di masjid sebagaimana laki-laki, di antara dasarnya adalah hadis yang diriwayatkan dalamsunan al-Baihaqi bab i’tikaf, hadis nomor 8855 dari ‘Aisyah ra yang berbunyi:

ان النبي صلى الله عليه وسلم كان يعتكف العشرالاواخرمن رمضان حتى توفاه الله ثم اعتكف ازواجه من بعده

 “Bahwasanya Nabi saw beri’tikaf pada sepuluh hari yang akhir dari Ramadhan hingga wafatnya, kemudian isteri-isteri beliau pun beri’tikaf setelah kepergian beliau...”

Dan juga hadis sahih Bukhari nomor 2045, riwayat dari ‘Aisyah ra yang berbunyi:

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم يعتكف العشرالاواخرمن شهررمضان فاستأذنته فأذن لها

 “Bahwasanya Rasulullah saw beri’tikaf sepuluh hari yang akhir lalu (‘Aisyah ra) meminta izin untuk ikut, maka beliau mengizinkannya”

1. Yang Membatalkan I’tikaf

  1. Keluar masjid tanpa ada alasan syar’i.
  2. Keluar masjid tanpa ada kebutuhan sebagai alasan mendesak
  3. Jima’ (bersetubuh) dengan isteri

2. Yang dibolehkan Ketika I’tikaf

  1. Wudhu di tempat wudhu masjid, mandi, buang hajat di kamar mandi masjid.
  2. Keluar masjid karena ada kebutuhan sebagai alasan mendesak, seperti keluar untuk makan dan minum, ke tempat kerja, dan ada hajat lain yang tidak bisa dilakukan di masjid
  3. Melakukan hal-hal mubah, seperti mengantar teman yang mengunjungi sampai ke pintu masjid atau bercakap-cakap sekedarnya.
  4. Isteri mengunjungi suami yang beri’tikaf dan berdua-duaan dengannya.
  5. Membawa kasur untuk untuk tidur di masjid.

3. Lama Waktu Bediam di Masjid

Para ulama sepakat bahwa i’tikaf yang ideal sesuai tuntunan nabi adalah sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan terus menerus tidak ada batasan waktu maksimalnya. Tetapi sebaian ulama berbeda pendapat mengenai berapa waktu minimalnya, menurut al-Mardawi dan Ibnu Hazm adalah waktu minimal dikatakan i’tikaf adalah selama berdiam diri di masjid meskipun hanya sesaat.

Ada berbagai cara beri’tikaf di masjid yaitu menjadikan masjid sebagai tempat mabit, maka agar i’tikafnya tidak batal harap memperhatikan hal-hal yang diperbolehkan dalam beri’tikaf (perhatikan butir 5 di atas), dan selalu berusaha dalam keadaan suci dari hadas dan najis (thaharah) baik badan dan pakaiannya.

Adab Beri’tikaf

Ketika beri’tikaf hendaknya seseorang memperbanyak dan menyibukkan diri dengan amalan-amalan, seperti shalat sunnah, qiyamul-lail, berdoa, dzikir, membaca Al-Qur’an dan mengkajinya.

Hukumnya makruh jika banyak ngobrol dan melakukan perbuatan yang tidak bermanfaat. Wallahu a’lam

 

PUASA: SEBUAH TINJAUAN LINGUISTIK

Tak kenal maka tak sayang.

Mungkin, itu hanya peribahasa, atau pepatah. Namun, sejarah bertutur bahwa pada masanya, sastra pun mampu menjadi jiwa pergerakan bangsa. Setidaknya untuk mereka yang satu bui dengan Si Pram, kependekan Pramoedya Ananta Toer. Tak pelak, nilai filosofi pada sebuah karya sastra, sesederhana apapun, terkadang menjadi krusial. Peribahasa di atas misalnya. Sebelum umat Islam melakukan puasa, Ramadhan atau lainnya, sudah seharusnya ada proses perkenalan dengan puasa. Naasnya, penulis mendapati kesesatan dalam proses perkenalan ini. Walhasil, tak jua muncul rasa sayang umat Islam kepada puasa. Persis dengan peribahasa itu; karena tak kenal.

Menahan. Jelas, ini merupakan arti bahasa dari puasa yang sering terdengar, atau setidaknya terbaca. Padahal, tidak semestinya begitu. Menahan merupakan maknatekstual dari terma صوم atau صيام. Namun lain dengan puasa. Dalam bahasa asalnya, puasa merupakan rangkaian kata. Konon, berasal dari upa dan vasa dalam bahasa Sanskerta. Paduan ini awalnya bermakna ‘berada dekat dengan Tuhan’. Lambat laun, bahkan dalam bahasa sastra Hindu kuno tersebut sekalipun, upavasa sering digunakan untuk menunjuk pada kegiatan menahan diri dari makan. KBBI pun akhirnya mengadopsi kata ini untuk menunjuk pada ibadah puasa. Walhasil, salah jika secara etimologis, dikatakan bahwa puasa bermakna menahan. Ada perbedaan linguistik antara puasa dan shaum/shiyâm.

Harus diluruskan. Faktanya, dalam berbagai media pembelajaran, riil maupun virtual, puasa yang berasal dari bahasa Sanskerta sering dimaknai menahan.Padahal, mengembalikan makna bahasa kepada asalnya dapat menimbulkan hikmah lain dari sudut pandang Melayu kuno dalam menjalankan ibadah puasa. Puasa merupakan satu metode mendekatkan diri pada Tuhan. Upaya taqarrub kepada Allah. Memang, Allah berfirman dalam hadits qudsi bahwa puasa adalah ibadah khusus antara-Nya dengan hamba-Nya. Seakan hadits ini menafikan nuansa profan keduniaan dalam puasa. Faktanya, Rasul sendiri menjelaskan bahwa banyak orang berpuasa hanya mendapati lapar dan dahaga. Dalam konstruk ibadah klasik Indonesia, ini berarti tidak ada upaya mendekatkan diri kepada Allah. Puasa yang benar, tentunya melepaskan diri dari segala hal yang tak disukai Allah. Jangankan maksiat, yang mendekatinya pun seyogyanya dihindari. Walhasil, entah sedikit atau banyak, umat Islam mampu mendekat pada Yang Maha Kuasa, mencari ridho-Nya, dan tentu berujung pada ketakwaan. Seperti kalam kudus Allah dalam al-Baqarah 183.

Bahasa Arab pun demikian. Ada kesalahan fatal dalam banyak materi tentang pengertian puasa. Penulis menemui beberapa sumber yang menyatakan bahwa shiyâm (صيام) merupakan bentuk jamak dari shaum (صوم). Tentu ini bermasalah. Dalam kamus bahasa Arab manapun, dijelaskan bahwa shaum dan shiyâm merupakan ism mashdar dari kata dasar yang sama. Otomatis, bermakna sama. Keduanya pun berbentuk singular. Andaikata, yang dimaksud beberapa orang dengan shiyâm adalah ‘orang yang berpuasa’ maka benar, ia adalah bentuk jamak dari shâ`im (صائم). Di sini, shiyâm dapat dimaknai ‘beberapa orang yang berpuasa’. Alih-alih mencari kebenaran linguistik, para akademisi dapat terjerumus dalam pemaknaan yang salah. Istilah shiyâm al-itsnain tidak lagi boleh karena puasa Senin hanya sehari. Padahal boleh. Walhasil, kesalahan demi kesalahan kecil dalam asal kata dan bahasa, membuktikan tidak berhasilnya proses perkenalan dengan puasa. Akhirnya, rasa sayang yang harusnya terwujud dalam menyambut puasa Ramadhan, hilang. Formalitas dan sekedar tidak makan-minum saja yang hadir. Jauh dari Sang Khaliq. Wallâhu a’lam.[Mc-V]

 

 

DERAJAT DAN HIKMAH PUASA RAMADHAN

Puasa Ramadhan merupakan ibadah yang memiliki berbagai macam keistimewaan dan manfaat, baik bagi jasmani maupun rohani seseorang yang menjalankan ibadah ini. Akan tetapi masih banyak orang-orang yang menjalankannya tanpa mengetahui bagaimana kualitas puasanya. Menurut Ulama Imam al Ghazali dalam kitabnya, Ihya Ulumuddin, puasa terbagi menjadi beberapa macam berdasarkan tingkatan kualitasnya, yaitu:

1. Shaumul umum

 أَمَّا صَوْمُ الْعُمُومِ: فَهُوَ كَفُّ الْبَطْنِ وَالْفَرْجِ عَنْ قَضَاءِ الشَّهْوَةِ

“Puasa umum adalah menahan perut dan kemaluan dari menunaikan syahwat.”

 2. Shaumul khushus

 وَأَمَّا صَوْمُ الْخُصُوصِ فَهُوَ كَفُّ السَّمْعِ وَالْبَصَرِ وَاللِّسَانِ وَالْيَدِ وَالرِّجْلِ وَسَائِرِ الْجَوَارِحِ عَنِ الْآثَامِ

“Puasa khusus adalah menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki dan seluruh anggota badan dari perbuatan-perbuatan dosa.”

 3. Shaumul khushusil-khushus

وَأَمَّا صَوْمُ خُصُوصِ الْخُصُوصِ: فَصَوْمُ الْقَلْبِ عَنِ الْهِمَمِ الدَّنِيَّةِ وَالْأَفْكَارِ الدُّنْيَوِيَّةِ وَكَفُّهُ عَمَّا سِوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِالْكُلِّيَّةِ

“Puasa sangat khusus adalah berpuasanya hati dari keinginan-keinginan yang rendah dan pikiran-pikiran duniawi serta menahan hati dari segala tujuan selain Allah secara totalitas.”

Hikmah Puasa Ramadhan

Melalui kegiatan ibadah puasa Ramadhan secara tidak langsung bagi yang melaksanakanya akan merasakan dampak positif yang luar biasa terutama peningkatan iman dan takwa karena segala upaya dan daya dilakukan dengan sebaik mungkin dengan mengamalkan segala kebajikan dan berbagai anjuran ibadah untuk mencapai derajat yang paling mulia di sisi Allah SWT sebagaimana firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Q.S. al-Baqarah [2]: 183).

Selain sebagai bulan penuh anugerah, Ramadhan juga harus dijadikan sarana dan waktu yang tepat untuk belajar, melatih dan menempa diri terhadap segala tindakan yang tidak sesuai dengan norma-norma agama dan sosial. Karena dengan berpuasa kita diharuskan untuk bisa menahan godaan-godaan duniawi bahkan melalui ramadhan umat Islam diajarkan untuk saling mengerti, menghormati dan menghargai satu sama lainnya. Tingkat solidaritas sosial yang dipupuk dan dibina selama satu bulan penuh diharapkan mampu menciptakan manusia-manusia unggul yang bisa hidup berdampingan dalam kerangka keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan yang maha Esa. Kepedulian sosial juga terus ditanamkan dalam puasa Ramadhan seperti memperbanyak shodaqoh, amal jariyah, memberikan bantuan kepada yang membutuhkan tanpa mengharapkan imbalan, menyantuni kaum dhuafa dan sebagainya. Semua itu dilakukan dengan kesadaran diri karena pentingnya bulan Ramadhan. Apalagi kondisi sosial masyarakat Indonesia yang kini tengah mengalami berbagai krisis ekonomi selain krisis lainnya yang terus membuat masyarakat lemah terus terpuruk dan tingkat kemisikinan kian bertambah.

Dengan kandungan nilai-nilai spiritual-sosial Ramadhan, maka sejatinya visi Islam sebagai agama pembawa rahmat bagi seluruh alam akan tercapai. “Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. (Q.S. al-Anbiyaa’[21]: 107)

Kenapa demikian? Karena Islam dengan sangat jelas mengajak umatnya untuk hidup berdampingan dan menghargai terhadap sesamanya. Ketika menjalankan ibadah puasa yang dirasakan oleh semua tingkat sosial masyarakat adalah sama-sama lapar, haus dan dahaga dan menahan diri untuk tidak berbuat hal-hal yang merugikan diri dan ibadahnya serta orang lain. Apabila kebiasaan tersebut dapat dijalankan diluar bulan puasa maka alangkah indahnya kebersamaan dalam bermasyarakat.

Dr. Yusuf Qardhawi dalam kitabnya al-Ibadah fil Islam mengungkapkan lima manfaat puasa yang bisa kita rasakan dalam bulan Ramadhan, yaitu:

Pertama, menguatkan jiwa. Dalam hidup hidup tidak sedikit manusia yang didominasi oleh hawa nafsunya, kemudian ia menuruti apapun yang menjadi keinginannya meskipun keinginan itu merupakan sesuatu yang bathil dan mengganggu serta merugikan orang lain. Karenanya, di dalam Islam ada perintah untuk memerangi hawa nafsu dalam arti berusaha untuk bisa mengendalikannya, bukan membunuh nafsu yang membuat manusia tidak mempunyai keinginan terhadap sesuatu yang bersifat duniawi. Apabila dalam peperangan ini mereka mengalami kekalahan, malapetaka besar akan terjadi karena manusia yang kalah dalam perang melawan hawa nafsu itu akan mengalihkan penuhanan dari kepada Allah SWT sebagai Tuhan yang benar kepada hawa nafsu yang cenderung mengarahkan kepada kesesatan. "Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah Telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (Q.S. al-Jaatsiyah [45]: 23). Dengan ibadah puasa, maka manusia akan berhasil mengendalikan hawa nafsunya yang membuat jiwanya menjadi kuat, bahkan dengan demikian, manusia akan memperoleh derajat yang tinggi seperti layaknya malaikat yang suci dan ini akan membuatnya mampu mengetuk dan membuka pintu-pintu langit hingga segala do’anya dikabulkan oleh Allah SWT.

Kedua,mendidik kemauan. Puasa mendidik seseorang untuk memiliki kemauan yang sungguh-sungguh dalam kebaikan, meskipun untuk melaksanakan kebaikan itu terhalang oleh berbagai kendala. Puasa yang baik akan membuat seseorang terus mempertahankan keinginannya yang baik, meskipun peluang untuk menyimpang begitu besar. Karena puasa itu sendiri bagian dari kesabaran.

Ketiga, kesehatan. Selain untuk kesehatan spiritual (rohani), puasa yang dijalani dengan baik dan benar akan mempengaruhi kesehatan fisik. Menurut para ahli kesehatan pada saat-saat tertentu perut harus diistirahatkan dari kerja memproses makanan yang masuk.

Keempat, mengenal nilai kenikmatan. Dengan puasa manusia bukan hanya disuruh memperhatikan dan merenungi tentang kenikmatan yang sudah diperolehnya, tapi juga diajarkan untuk merasakan langsung betapa besar sebenarnya nikmat yang telah Allah berikan. Hal ini karena baru beberapa jam saja kita tidak makan dan minum sudah terasa betul penderitaan yang kita alami, dan pada saat kita berbuka puasa, terasa betul besarnya nikmat dari Allah meskipun hanya berupa sebiji kurma atau seteguk air. Disinilah letak pentingnya ibadah puasa guna mendidik kita untuk menyadari tinggi nilai kenikmatan yang Allah berikan agar kita selanjutnya menjadi orang yang pandai bersyukur dan tidak mengecilkan arti kenikmatan dari Allah meskipun dari segi jumlah memang sedikit dan kecil. “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".(Q.S. Ibrahim [14]: 7)

Kelima, mengingat dan merasakan penderitaan orang lain. Merasakan lapar dan haus juga memberikan pengalaman kepada kita bagaimana beratnya  enderitaan yang dirasakan orang lain. Sebab pengalaman lapar dan haus yang kita rasakan akan segera berakhir hanya dengan beberapa jam, sementara penderitaan orang lain entah kapan akan berakhir. Dari sini, semestinya puasa akan menumbuhkan dan memantapkan rasa solidaritas kita kepada kaum muslimin lainnya yang mengalami penderitaan. Maka diakhir Ramadhan diwajibkan untuk membayar zakat yang bisa dimaknai sebagai simbol solidaritas. zakat itu tidak hanya bagi kepentingan orang yang miskin dan menderita, tapi juga bagi kita yang mengeluarkannya sebagai wujud pensucian jiwa dan harta kita yang dimiliki.

Dari uraian diatas sangat jelas sekali bahwa Islam merupakan agama yang mengajarkan keseimbagan hidup bagi pemeluknya yaitu kaum muslim yang beriman dari berbagai sudut pandang baik jasmani, rohani, sosial, hukum dan norma-norma lainnya yang mengajarkan kepada manusia untuk dapat menjalani hidup sesuai dengan tuntunan sunnah Rosulullah SAW yang diutus hanya untuk menyempurnakan ahlak. Dengan puasa dibulan Ramadhan diharapkan pula akan terlahir kembali manusia-manusia unggul yang memiliki keimanan yang kuat dan bertakwa kepada Allah SWT dan mempunyai jiwa sosialis yang tinggi. Wallahu a’lam bi muradihi. [a.nurozi]


PERBEDAAN DALAM KESATUAN; HIKMAH LAIN DI BULAN RAMADHAN

 من قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

Artinya: Barang siapa melakukan ‘qiyâm Ramadlân karena iman dan mengharap pahala, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.

Dalam bukunya, ‘Hadits-Hadis Palsu seputar Ramadan’, alhmarhum Ali Musthofa Ya’qub menegaskan bahwa hanya hadits inilah yang valid berkaitan dengan pelaksanaan shalat Tarawih, dan jumlah rakaatnya. Artinya, beliau menegaskan bahwa jumlah rakaat Tarawih tidak dibatasi dan otomatis, 8 maupun 20 rakaat sama-sama diperbolehkan. Bahkan, jumlah-jumlah lain pun diperbolehkan. Shalat malam Ramadhan 2 rakaat maupun seribu rakat tidak ada masalah.

Husnudzan penulis, almarhum yang tahu bahwa ibadah malam Ramadlan mencakup tidak hanya shalat,telah sengaja mengarahkan makna hadits di atas kepada shalat demi menyatukan umat Islam dalam bertarawih. Minimal, tidak menonjolkan perbedaan yang ada. Hal ini karena telah menjadi agenda rutin di Indonesia, munculnya gesekan-gesekan yang dipicu oleh perbedaan jumlah rakaat dalam sholat Tarawih. Tak ayal, masyarakat awam yang tidak mungkin berdiskusi ilmiah untuk memverifikasi data yang ada pun menjadi korban. Kebimbangan, perasaan aneh, resistensi, hingga kebencian terkadang muncul menyikapi pelaksanaan Tarawih yang berbeda.

Harusnya ini tidak terjadi. Umat Islam di Indonesia harus lebih melek tentang perbedaan. Kebanyakan, Muslim awam Indonesia terlalu labil, hingga mudah terhuyung ke sana ke sini dihadapkan dengan berbagai pendapat. Seperti dakwah tentang jumlah rakaat Tarawih. Mereka yang terbiasa 20 rakaat lantas ragu ketika seseorang datang kepadanya menyampaikan berbagai hadits yang menegaskan Tarawih Rasul sebanyak 8 rakaat. Padahal hadits-hadits tersebut lemah. Atau mungkin orang tersebut menghadirkan riwayat Aisyah bahwa Rasulullah selalu shalat malam di bulan Ramadhan sebanyak 11 rakaat. Padahal jelas, dibaca tuntas, hadits tersebut berbicara tentang kebiasaan Nabi sepanjang tahun, bukan hanya di bulan Ramadhan. Tak beda, mereka yang terbiasa 8 rakaat lantas bimbangketika ada yang menyampaikan bahwa Ubay ibn Ka’b menjadi imam shalat tarawih 20 rakaat. Padahal jelas, beliau menjadi imam atas perintah sang khalifah, Umar ibn Khattab, bukan perintah Rasul, bukan pula di masa Rasul.

Sejatinya, pola dakwah Islam Indonesia perlu lebih dikembangkan. Para da’i harus lebih dihimbau agar proporsional dalam menyampaikan ajaran agama. Mengarahkan pada sebuah madzhab atau aliran adalah wajar. Namun tentu tanpa menafikan keberadaan pendapat lain. Berpegang pada dalil naqli berupa hadits dan ayat al-Qur`an adalah harus. Namun juga tidak laiknya menafikan kemungkinan kebenaran sebuah keyakinan yang diretas dari kiyai, leluhur, atau kitab kuning sekalipun. Toh, sumber sekunder yang otoritatif pastilah memunculkan pendapatnya secara metodologis. Ceramah kiyai, nasehat orang tua, atau uraian buku, asalkan mu’tabar, pastilah muncul setelah proses ijtihad panjang yang tak perlu disampaikan pada para muqollid.

Sebuah fakta menarik, bahwa ternyata, shalat tarawih di Masjdil Haram dilakukan sebanyak 20 rakaat dengan ditengah-tengahi proses pergantian imam setelah rakaat ke-8. Di Masjid al-Azhar, Mesir, juga 20 rakaat walau setelah 8 rakaat banyak jamaah yang keluar shaff untuk pulang. Masjid kampung penulis, al-Fajar, Karangwaru Kidul, Blunyahrejo, Yogyakarta lebih menarik lagi. Gelombang Tarawih pertama dilakukan setelah Isya sebanyak 8 rakaat, ditambah 3 rakaat shalat Witir. Pukul 20.30, gelombang Tarawih kedua dilakukan dengan jumlah 20 rakaat dan 3 rakaat Witir. Setiap hari. Keindahan ini mungkin belum menular ke tempat lain, namun, mengapa tidak?Wallâhu a’lam.[Mc-V]

 

 RELEVANSI ANTARA PUASA DAN KESUKSESAN

Kunci kesuksesan adalah takwa. Dengan baju takwa, manusia akan mudah meraih apa yang dicita-citakan dan didambakannya. Mereka tidak akan menemukan kesulitan hidup yang berarti di alam dunianya, karena Allah SWT telah menjanjikan jalan keluar (solusi) bagi setiap permasalahannya, yang terkadang solusi tersebut muncul tanpa predikasi dan kalkulasi rasional mereka sebelumnya. Puasa sendiri merupakan salah satu pilar Islam dari rangkaian amal ibadah yang bermuara pada ketakwaan. Ia ibarat tameng (junnah) yang melindungi pemiliknya dari serbuan dan gempuran rudal-rudal maksiat yang dilancarkan oleh hasutan-hasutan hawa nafsu syaithaniyah. Ia bahkan ibarat “buldoser” yang menyempitkan jalan-jalan setan yang mengalir di setiap urat nadi manusia
Print   Bookmark and Share

Tags : kolom